Gambar-Gambar Blok IIa
- HMT_ke RS Bima
- HMT_ke RS Bima_2
- HMT_ke RS Bima_4
- Bima_HMT
- Dompu_presentasi
- mas arif, difoto saat post test kok kaget?
- HMT_belajar
- HMT_ke RSU Bima
- HMT_Iin, Saman, Ulul
Banyak kegiatan dilakukan selama Blok IIa.
Diawali presentasi di RSUD Bima juga diakhiri dengan kunjungan observasi pelaksanaan 5 R di RSUD Bima. ah, ternyata….banyak hal yang memang harus kita lakukan untuk mewujudkan rumah sakit sesuai dengan harapan kita dan harapan masyarakat umum.
Syukurnya, HMT telah menuntun peserta HMT dari 4 rumah sakit di NTB untuk membuka cakrawala-wawasan baru tentang rumah sakit masa depan. Tim HMT RS Bima, Tim HMT RS Dompu, Tim HMT RS Sumbawa dan Tim HMT RS Gerung hingga blok IIa berakhir masih menunjukan minat yang luar biasa pada semua proses belajar dan praktek-tugas HMT. Sepertinya disadari betul oleh semua peserta dan semua tim bahwa ini untuk perubahan dan kemajuan rumah sakit dimasa depan.
Add comment Mei 13, 2009
Evidence Based Medicine (1)
Dalam dua dekade terakhir telah terjadi perkembangan yang cukup dramatik dalam bidang kedokteran. Teknologi medik yang di tahun 1950an lebih banyak menggunakan pendekatan manual mulai tergeser dengan penggunaan teknologi canggih. Penegakan diagnosis yang semula lebih banyak melalui pendekatan klinik telah beralih ke alat-alat diagnosis yang lebih akurat, praktis, dan dapat diandalkan. Demikian pula halnya dengan teknologi terapetik yang telah sedemikian majunya sehingga berbagai jenis penyakit yang semula tidak dapat disembuhkan atau menimbulkan kecacatan dapat teratasi dengan temuan-temuan terapi baru yang lebih menjanjikan secara medik dan ilmiah.
Dalam perkembangannya, pendekatan medik yang berbasis empirisme mulai dipertanyakan oleh karena prasat-prasat baru yang lebih efektif dan dengan risiko yang lebih minimal telah ditemukan dan senantiasa diperbaharui dari waktu ke waktu. Magnetic resonance imaging (MRI) dan Whole body CT-scan merupakan sedikit contoh dari teknologi diagnostik modern yang memiliki akurasi tinggi. Di bidang bedah, teknologi minimally access (invasive) surgery telah secara bertahap menggantikan teknologi laparotomi yang risikonya jauh lebih besar dan masih dilakukan di banyak negara. Perkembangan obat baru jauh lebih pesat, khususnya untuk terapi keganasan, penyakit-penyakit kardiovaskuler dan penyakit degenaratif.
Jika disimak lebih jauh maka terlihat bahwa berbagai temuan dan hipotesis yang pada masa lampau diterima kebenarannya, secara cepat digantikan dengan hipotesis-hipotesis baru yang lebih sempurna. Sebagai contoh adalah episiotomi yang selama ini dilakukan sebagai salah satu prosedur rutin persalinan khususnya pada primigravida. Melalui stud! meta analisis dan berbagai telaah sistematik, ternyata terbukti bahwa episiotomi secara rutin justru lebih merugikan bagi pasien1. Demikian pula halnya dengan temuan obat baru yang dapat saja segera ditarik dari perederan hanya dalam waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di populasi terbukti memberikan efek samping yang berat pada sebagian penggunanya.
Di awal 1990an diperkenalkanlah suatu paradigma baru kedokteran yang disebut sebagai evidence based medicine (EBM) atau kedokteran berbasis bukti2. Melalui paradigma baru ini maka setiap pendekatan medik barulah dianggap accountable apabila didasarkan pada temuan-temuan terkini yang secara medik, ilmiah, dan metodologi dapat diterima. Perlahan tapi pasti, EBM telah menjadi jiwa dari ilmu kedokteran dan para klinisi maupun praktisi medik di seluruh dunia segera mengadopsi EBM sebagai bagian dari implementasi pelayanan medik yang berbasis bukti.
Dalam tulisan ini akan dibahas konsep-konsep dasar penggunaan evidence based medicine dalam pengambilan keputusan klinik.
1 comment Mei 12, 2009
EVIDENCE BASED MEDICINE (2)
Menurut Sackett et al. (1996) Evidence-based medicine (EBM) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita. Dengan demikian, dalam praktek, EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang paling dapat dipercaya.
Evidence based medicine (EBM) adalah proses yang digunakan secara sistematik untuk menemukan, menelaah/me-rewew, dan memanfaatkan hasil-hasil studi sebagai dasar dari pengambilan keputusan klinik.
Secara lebih rinci EBM merupakan keterpaduan antara (1) bukti-bukti ilmiah yang berasal dari studi yang terpercaya (best research evidence); dengan (2) keahlian klinis (clinical expertise) dan (3) nilai-nilai yang ada pada masyarakat (patient values).
(1) Best research evidence. Di sini mengandung arti bahwa bukti-bukti ilmiah tersebut harus berasal dari studi-studi yang dilakukan dengan metodologi yang sangat terpercaya (khususnya randomized controlled trial), yang dilakukan secara benar. Studi yang dimaksud juga harus menggunakan variabel-variabel penelitian yang dapat diukur dan dinilai secara obyektif (misalnya tekanan darah, kadar Hb, dan kadar kolesterol), di samping memanfaatkan metode-meiode pengukuran yang dapat menghindari risiko “bias” dari penulis atau peneliti.
(2) Clinical expertise. Untuk menjabarkan EBM diperlukan suatu kemampuan klinik (clinical skills) yang memadai. Di sini termasuk kemampuan untuk secara cepat mengidentifikasi kondisi pasien dan memperkirakan diagnosis secara cepat dan tepat, termasuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang menyertai serta memperkirakan kemungkinan manfaat dan risiko (risk and benefit) dari bentuk intervensi yang akan diberikan. Kemampuan klinik ini hendaknya juga disertai dengan pengenalan secara baik terhadap nilai-nilai yang dianut oleh pasien serta harapan-harapan yang tersirat dari pasien.
(3) Patient values. Setiap pasien, dari manapun berasal, dari suku atau agama apapun tentu mem-punyai nilai-nilai yang unik tentang status kesehatan dan penyakitnya. Pasien juga tentu mempunyai harapan-harapan atas upaya penanganan dan pengobatan yang diterimanya. Hal ini harus dipahami benar oleh seorang klinisi atau praktisi medik, agar setiap upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan selain dapat diterima dan didasarkan pada bukti-bukti ilmiah juga mempertimbangkan nilai-nilai subyektif yang dimiliki oleh pasien.
Mengingat bahwa EBM merupakan suatu cara pendekatan ilmiah yang digunakan untuk pengambilan keputusan terapi, maka dasar-dasar ilmiah dari suatu penelitian juga perlu diuji kebenarannya untuk mendapatkan hasil penelitian yang selain up¬date, juga dapat digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.
Add comment Mei 12, 2009
EVIDENCE BASED MEDICINE (3)
Tujuan EBM
Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian maka salah satu syarat utama untuk memfasilitasi pengambilan keputusan klinik yang evidence-based, adalah dengan menyediakan bukti-bukti ilmiah yang relevan dengan masalah klinik yang dihadapi serta diutamakan yang berupa hasil meta-analisis, review sistematik, dan randomised controlled trial (RCT).
Mengapa harus EBM ?
llmu Kedokteran berkembang sangat pesat. Temuan dan hipotesis yang diajukan pada waktu yang lalu secara cepat digantikan dengan temuan baru yang segera menggugurkan teori yang ada sebelumnya. Sementara hipotesis yang diujikan sebelumnya bisa saja segera ditinggalkan karena muncul pengujian-pengujian hipotesis baru yang lebih sempurna. Sebagai contoh, jika sebelumnya diyakini bahwa episiotomi merupakan salah satu prosedur rutin persalinan khususnya pada primigravida, saat ini keyakinan itu digugurkan oleh temuan yang menunjukkan bahwa episiotomi secara rutin justru sering menimbulkan berbagai permasalahan yang kadang justru lebih merugikan bagi quality of life pasien. Demikian pula halnya dengan temuan obat baru yang dapat saja segera ditarik dan perederan hanya dalam waktu beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di populasi terbukti memberikan efek samping yang berat pada sebagian penggunanya.
Pada waktu yang lampau dalam menetapkan jenis intervensi pengobatan, seorang dokter umumnya menggunakan pendekatan abdikasi (didasarkan pada rekomendasi yang diberikan oleh klinisi senior, supervisor, konsulen maupun dokter ahli) atau induksi (didasarkan pada pengalaman din sendiri). Kedua pendekatan tersebut saat ini (paling tidak, dalam 10 tahun terakhir) telah ditinggalkan dan digantikan dengan pendekatan EBM, yaitu didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang ditemukan melalui studi-studi yang terpercaya, valid, dan reliable.
Efek dan khasiat obat yang ditawarkan oleh industri farmasi melalui duta-duta farmasinya (detailer) umumnya unbalanced dan cenderung misleading atau dilebih-lebihkan dan lebih berpihak pada kepentingan komersial. Penggunaan informasi seperti ini juga termasuk dalam pendekatan abdikasi, yang jika diterima begitu saja akan sangat berisiko dalam proses terapi.
Secara ringkas, ada beberapa alasan utama mengapa EBM diperlukan,
1. Bahwa informasi up-date mengenai diagnosis, prognosis, terapi dan pencegahan sangat dibutuhkan dalam praktek sehari-hari. Sebagai contoh, teknologi diagnostik dan terapetik selalu disempurnakan dari waktu ke waktu.
2. Bahwa informasi-informasi tradisional (misalnya yang terdapat .dalam text-book) tentang hal-hal di atas sudah sangat tidak adekuat pada saat ini; beberapa justru sering keliru dan menyesatkan (misalnya informasi dari pabrik obat yang disampaikan oleh duta-duta farmasi/cfete//er), tidak efektif (misalnya continuing medical education yang bersifat didaktik), atau bisa saja terlalu banyak sehingga justru sering membingungkan (misalnya journal-journal biomedik/ kedokteran yang saat ini berjumiah lebih dari 25.000 jenis).
3. Dengan bertambahnya pengalaman klinik seseorang maka kemampuan/ketrampilan untuk mendiagnosis dan menetapkan bentuk terapi (clinical judgement) juga meningkat. Namun pada saat yang bersamaan, kemampuan ilmiah (akibat terbatasnya informasi yang dapat diakses) serta kinerja klinik (akibat hanya mengandalkan pengalaman, yang sering tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah) menurun secara signifikan.
4. Dengan meningkatnya jumlah pasien, waktu yang diperlukan untuk pelayanan semakin banyak. Akibatnya, waktu yang dimanfaatkan untuk meng-up date ilmu (misalnya membaca journal-journal kedokteran) sangatlah kurang.
Add comment Mei 12, 2009
EVIDENCE BASED MEDICINE (4)
Langkah-langkah EBM
Evidence based medicine dapat dipraktekkan pada berbagai s’rtuasi, khususnya jika timbul keraguan dalam hal diagnosis, terapi, dan penatalaksanaan pasien. Adapun langkah-langkah dalam EBM adalah sbb:
Langkah I: Memformulasikan pertanyaan ilmiah
Setiap saat seorang dokter menghadapi pasien tentu akan muncul pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang menyangkut beberapa hal seperti diagnosis penyakit, jenis terapi yang paling tepat, faktor-faktor risiko, prognosis hingga upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah yang dijumpai pada pasien.
Dalam situasi tersebut diperlukan kemampuan untuk mensintesis dan menelaah beberapa permasalahan yang ada. Sebagai contoh, dalam skenario 1 disajikan suatu kasus dan bentuk kajiannya.
Pertanyaan-pertanyaan yang mengawali EBM selain dapat berkaitan dengan diagnosis, prognosis, terapi, dapat juga berkaitan dengan risiko efek iatrogenik, quality of care, hingga ke ekonomi kesehatan (health economics). Idealnya setiap issue yang muncul hendaknya bersifat spesifik, berkaitan dengan kondisi pasien saat masuk, bentuk intervensi terapi yang mungkin dan outcome klinik yang dapat diharapkan.
Langkah II: Penelusuran informasi limiah untuk mencari “evidence”
Setelah formulasi permasalahan disusun, langkah selanjutnya adalah mencari dan mencoba menemukan bukti-bukti ilmiah yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Untuk ini diperlukan kemampuan penelusuran informasi ilmiah (searching skill) serta kemudahan akses ke sumber-sumber informasi. Penelusuran kepustakaan dapat dilakukan secara manual di perpustakaan-perpustakaan fakultas Kedokteran atau rumahsakit-rumahsakit pendidikan dengan mencari judul-judul artikel yang berkaitan dengan permasalahan yang ada dalam journal-journal.
Pada saat ini terdapat tebih dari 25.000 journal biomedik di seluruh dunia yang dapat di-akses secara manual melalui bentuk reprint. Dengan berkembangnya teknologi informasi, maka penelusuran kepustakaan dapat dilakukan melalui internet dari perpustakaan, kantor-kantor, warnet-wamet (warung internet), bahkan di rumah, dengan syarat memiliki komputer dan seperangkat modem serta saluran telepon untuk mengakses internet.
Untuk electronic searching dapat digunakan Medline, yaitu CD Rom yang berisi judul-judul artikel/publikasi disertai dengan abstrak atau ringkasan untuk masing-masing artikel. Database yang terdapat dalam Medline CD-Rom ini memungkinkan kita melakukan penelusuran (searching) artikel dengan cara memasukkan “kata kunci” (key words) yang relevan dengan masalah klinik yang kita hadapi (misalnya pharyngitis, tonsilitis, dan pneumonia). Dengan memasukkan kata kunci maka Medline akan menampilkan judul-judul artikel yang ada di sebagian besar journal biomedik lengkap dengan nama pengarang (authors), sumber publikasi (source) (misalnya JAMA, BMJ, Annals of Internal Medicine), tahun publikasi hingga abstrak atau ringkasan dari artikel yang bersangkutan.
Penelusuran kepustakaan dapat juga dilakukan melalui internet, misalnya dengan mengakses Cochrane Database of Systematic Reviews, Scientific American Medicine on CD-ROM, dan ACP Journal Club. Pada saat ini kita telah dapat mengakses beberapa journal biomedik secara gratis dan full-text, misalnya British Medical Journal yang dapat diakses melalui internet.
Langkah III: Penelaahan terhadap bukti ilmiah (evidence) yang ada
Dalam tahap ini seorang klinisi atau praktisi dituntut untuk dapat melakukan penilaian (apprisaf) terhadap hasil-hasil studi yang ada. Tujuan utama dari penelaahan kritis ini adalah untuk melihat apakah bukti-bukti yang disajikan valid dan bermanfaat secara klinik untuk membantu proses pengambilan keputusan. Hal ini penting, mengingat dalam kenyataannya tidak semua studi yang dipublikasikan melalui journal-journal internasional memenuhi kriteria metodologi yang valid dan reliable.
Untuk mampu melakukan penilian secara ilmiah seorang klinisi atau praktisi harus memahami metode yang disebut dengan “critical appraiser atau “penilaian kritis” yang dikembangkan oleh para ahli dari Amerika Utara dan Inggris. Critical appraisal ini dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan kunci untuk menjaring apakah artikel-artikel yang kite peroteh memenuhi kriteria sebagai artikel yang dapat dkjunakan untuk acuan.
Langkah IV: Penerapan hasil penelaahan ke dalam praktek
Dengan mengidentifikasi bukti-bukti ilmiah yang ada tersebut, seorang klinisi atau praktisi dapat langsung menerapkannya pada pasien secara langsung atau melalui diskusi-diskusi untuk menyusun suatu pedoman terapi. Berdasarkan infprmasi yang ada maka dapat saja pada Skenario 1 diputuskan untuk segera memulai terapi dengan warfarin. Ini tentu saja didasarkan pada pertimbangan risiko dan manfaat (risk-benefit assessment) yang diperoleh melalui penelusuran bukti-bukti ilmiah yang ada.
Dalam label 1 dipresentasikan derajat evidence, yaitu kategorisasi daiam menempatkan evidence berdasarkan kekuataannya. Evidence level 1a misalnya, merupakan evidence yang diperoleh dari meta-analisis terhadap berbagai uji klinik acak terkendali (randomised controlled trials). Evidence level 1a ini dianggap sebagai bukti ilmiah dengan derajat paling tinggi yang layak untuk dipercaya.
Level : Jenis bukti ilmiah
Ia : Bukti berasal dari suatu meta-analysis atau systematic review
Ib: Bukti berasal dari minimal 1 randomised controlled trial
IIa : Bukti berasal dari minimal 1 studi non randomized trial
IIb : Bukti berasal dari minimal 1 studi quasi experimental
III : Bukti berasal dari studi non-experimental, seperti comparative studies, correlational studies, and case studies, cohort, dan case control study
IV : Evidence berasal dari laporan komite ahli (expert committee) atau opini dan atau pengalaman klinis dari individu yang berkompeten
Langkah V: Follow up dan evaluasi
Tahap ini harus dilakukan untuk mengetahui apakah current best evidence yang digunakan untuk pengambilan keputusan terapi bermanfaat secara optimal bag! pasien, dan memberikan risiko yang minimal. Termasuk dalam tahap ini adalah mengidentifikasi evidence yang lebih baru yang mungkin bisa berbeda dengan apa yang telah diputuskan sebelumnya. Tahap ini juga untuk menjamin agar intervene! yang akhimya diputuskan betul-betul “do more good than harm”.
Add comment Mei 12, 2009
EVIDENCE BASED MEDICINE (5)
Penerapan EBM di Pusat pelayanan Kesehatan
Untuk dapat menerapkan pola pengambilan keputusan klinik yang berbasis pada bukti ilmiah terpercaya diperlukan upaya-upaya yang sistematik, terencana, dan melibatkan seluruh klinisi di bidang masing-masing. Pelatihan Evidence-based medicine perlu didukung dengan perangkat lunak dan perangkat keras yang memadai. Pada saat ini informasi-informasi ilmiah dapat diperoleh secara mudah dari journal-journal biomedik melalui internet. Oleh sebab itu sudah selayaknya setiap rumah-sakit melengkapi diri dengan fasilitas-fasilitas untuk searching dan browsing yang dapat diakses secara mudah oleh para klinisi.
Pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas masalah-masalah klinik hendaknya difasilitasi dengan sumber-sumber informasi yang memadai. Untuk ini diperlukan staf pendukung yang mampu secara kontinvu men-down load full text paper dari berbagai journal biomedik. Informasi-informasi yang ada kemudian dapat digunakan untuk mem-back-up keputusan-keputusan klinik agar dapat berbasis pada bukti ilmiah yang terpercaya.
Sudah saatnya pula dilakukan sosialisasi secara sistematik kepada seluruh jajaran pelayanan kesehatan untuk memanfaatkan hasil-hasil studi biomedik dalam pengambilan keputusan klinik. Pusat-pusat pelayanan kesehatan dapat bekerjasama dengan pusat-pusat pendidikan tinggi, khususnya Fakultas-fakultas kedokteran dalam memverifikasi dan menetapkan hasil-hasil penelitian yang valid yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan klinik.
Add comment Mei 12, 2009
Tugas Blok I Sukses Dipresentasikan Tim HMT
Bertempat di Aulan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima digelar presentasi tugas blok I kegiatan HMT. Kegiatan ini disamping dikuti seluruh peserta HMT, juga dikuti direktur dari masing-masing RS peserta HMT. Kepala bidang dan unit terkait di RSUD Bima juga dilibatkan. Pada kegiatan tersebut (senin, 4 Mei 2009) seluruh permasalahan tugas blok dipresentasikan oleh masing-masing tim HMT. Bertugas sebagai presenter pertama, tim HMT Bima yang diwakili dr. Hj. Early memaparkan berbagai isyu patient safety di ruang IGD RSUD Bima. Berbagai adverse event (kejadian yang tidak diinginkan) juga coba di identifikasi. Semua data-data hasil pengukuran tim selama waktu tugas (2 minggu) diketengahkan dihadapan mentor, tim HMT lain, dan karyawan RSUD Bima. RS bima presentasi Presentasi RSUD Bima juga mendapat tanggapan dari beberapa direktur RSU yang hadir pada kegiatan ini. Diantaranya Direktur RS Gerung, RS Sumbawa (di wakili Kabid), dan direktur RS Dompu. Pada intinya, hampir semua rumah sakit memiliki masalah yang sama. Berikutnya, RSUD Dompu memperesentasikan hasil identifikasi patient safety nya dengan fokus ruang perawatan penyakit dalam. Gambar-gambar adverse event yang ditemui kiranya telah banyak menceritakan besarnya potensi adverse event terjadi. Sedangkan RSUD Sumbawa yang mengaku tampil “buka-bukaan”, memfokuskan perhatiannya pada isyu patient safety di ruang Kamar operasi (OK). Menarik. Karena dari gambar-gambar yang ditampilkan banyak bercerita tentang resiko adverse event di ruang OK. Tampil pada urutan terakhir adalah peserta paling jauh. peserta dari negeri seberang. RSUD Gerung. Dengan komandan tim Arif Suryawirawan dan dukungan dari sang direktur drg. Ambaryati cukup membuat presentasi Gerung menjadi hangat dan sukses mengidentifikasi adverse event di Instalasi Farmasi. Dari berbagai presentasi tersebut, ternyata dibanyak tempat, dibanyak ruangan, bahkan dimanapun di unit-unit pelayanan rumah sakit mempunyai resiko untuk timbulnya adverse event. Karena itu, menurut dr. Tjahyono Kuntjoro, Dr.PH sekaligus pemateri awal Blok II dari UGM yang penting adalah “Budaya patient safety!.
- Bima team
- Dompu team
- Sumbawa team
- Gerung team
1 comment Mei 4, 2009
Cerita Gambar HMT
Diantara pelaksanaan kegiatan HMT, ternyata ada dan banyak saja cerita menarik di samping tugas dan instukturnya.
gambar-gambar berikut kiranya dapat menceritakan lebih banyak hal tersebut.

aba-hu-action
Gambar diatas tentu semua sudah tahu. Abahu adalah lakon utamanya. beginilah asli gaya fotografer produk HMT.

Sahmir
Kalau yang ini k sahmir sedang presentasi : “bapak-bapak yang saya hormati, ibu-ibu yang saya cintai”, na lho…….
Gambar dan cerita lainnya menyusul.
1 comment April 24, 2009
Block I, What Event ?
Blok I memang telah usai. Bagi sebagian besar peserta, mengikuti blok I adalah cakrawala baru yang sungguh begitu luas. Yang biasa dengan “kebiasaan” jadi “melek”. karena banyak kebiasaan itu yang ternyata sudah kadaluarsa. Sudah tidak up to date, sudah ketinggalan jaman. Sudah tidak digunakan lagi. Lihat saja, hampir semua RS peserta HMT saat ini masih akrab dengan pemeriksaan Widal dan tambal gigi dengan amalgam. padahal kedua prosedur tersebut sudah lama tidak direkomendasikan lagi.
Itulah berkah blok I HMT. Seperti apa persisnya pendapat peserta, ini dia rangkumannya :
Kesannya meskipun capek tapi menyenangkan dan tetap bersemangat. (dr. Early-Bima)
HMT bLok 1.. OckEee BuaAngeTz!!! (Fitri-Bima)
HMT, Oce deh !(Ilmi-Sbw)
Wuihh..hari hari yg cukup berat tp mengasikkan. hingga ada yg termehek mehek.. Smoga kt menjadi bagian yg 10%, bkn mencari bagian 10%. (Arif-Gerung)
MaTer!x mengasikkan c!e,,tp menguras 0tak n tnaga dengan bnykx tgas2 st!ap hr!. . .He7. . Ampe skt sgala lag!. . ,,,dtmbh dngan adax Pr0f. !Wan keadaan kg!atan dr hri ke2 ampe trakhr, jd seru bngt dengan guy0nanx beliau dseTiap ses!. . .Hay0o. . .Friends smangat tyus!
(Indri-Gerung)
LUAR BIASA.,SGT BERKESAN…SMOGA APA YG KITA PELAJARI DI BLOK 1 MENJADI LANGKAH AWAL TIM DOMPU MEMPERBAIKI PELAYANAN DI RSU DOMPU (Nirwana-Dompu)
Blok 1 ckp membuat hati, pikirn,jiwa lelah..tp hrs tetp semangat krn ilmu adlh mahal n tdk pernh hbs..spesial for prof.iwan..tx..(Ida Aryani rsud_Gerung)
Secara fisik melelahkan tp sec batin puas (Yadi-Sbw)
Merubah mind set- paradigma bukanlah sesuatu yg mudah. Dibutuhkan keinginan dan kemauan yg kuat serta komitmen yg tinggi. Pasien safety adl sesuatu yg sangat penting bg kita yg bertugas di RS. (berprofesi sbg tnga medis) (drg. Ihsan-Bima)
Bahwa paradigma pelayanan berorientasi pd pasien, sehingga safety patient hrs di utamakan. Dan kita hrs dpt mengidentifikasi resiko trjdinya medical error di RS dan mencoba redesain kembali (Herman-Sbw)
Banyak hal yang selama ini kita anggap benar ternyata salah. Saatnya kita selalu; think safety , talk safety, work safety dan breathe safety !(Firman-Bima)
Add comment April 21, 2009
Setelah Blok I Usai
Setelah berlangsung selama satu minggu, akhirnya Blok I kegiatan HMT berakhir.
Dua hari pertama materi HMT diisi oleh fasilitator C. Tjahyono Kuntjoro, dr. MPH, DrPH. Sedangkan sisanya (Rabu-sabtu) kegiatan di isi oleh Prof. Iwan Dwiprahasto. Materi utamanya dalah patient safety.

Prof. Iwan; Ingat patient safety !
Hal menarik pada blok I ini adalah disamping membahas secara menyeluruh tentang patient safety, juga membahas mengenai berbagai kejadian yang tidak diinginka-KTD (adverse event) hingga kejadian yang hampir saja terjadi.
Pada blok ini juga mengetengahkan tentang pentingnya Evidence Base Medicine (EBM) dalam memberikan pengobatan. Pun demikian dalam hal menegakkan diagnosa serta menentukan prognosis. Semua bisa diukur dengan angka matematika.
Juga menarik adalah beberapa kenyataan (kebiasaan) dilingkungan kerja yang selama ini kita anggap benar ternyata banyak juga yang keliru atau tepatnya salah. Misalnya saja pemberian profilaksis pre operasi. Kita biasa memberikan di ruangan perawatan, padahal jadwal pasti operasi tidak jelas. Idealnya atau mestinya (seperti kata pak herman Sumbawa) antibiotik profilaksi diberikan maksimal 1 jam sebelum insisi dilakukan. Karena kadar antibiotik tersebut dalam darah mencapai puncaknya pada menit ke-45. Itu hanyaa salah satunya. Contoh lain adalah kesalahan dalam nenetukan angka-angka indikator seperti infeksi nosokomial (INOS). Bahkan Prof. Iwan mengatakan seandainya angka itu INOS itu benar maka semua negara di diunia ini akan berbondong-bondong di rawat di RS kita. “Di luar negeri seperti amerika, angkanya masih diatas 20 %, masak di kita 1,5 %” katanya.
Juga dicontohkan adalah penggunaan amalgam untuk tambal gigi yang ternyata berbahaya bagi kesehatan (saraf di usia lanjut). Kadar mercuri dalam amalgam tersebut dapat mengganggu sistem saraf. bahkan mercuri ini tidak hanya menyebabkan kerugian pada pemakainya namun juga pada lingkungan. “mercuri ini kalau di buang sembarangan di tanah, itu baru bisa diurai setelah 1800 tahun”, ujarnya.
Karena itu, penting bagi semua pemberi dan organisasi pelayanan kesehatan agar memperhatikan berbagai aspek dalam patient safety ini.
- Prof. Iwan; Ingat patient safety !
Add comment April 21, 2009

















